On Dinda Case.

Kadang-kadang rasanya gatal mau kritik sana-sini. Mungkin memang sifat dasar manusia, yang selalu ingin cari-cari kesalahan orang lain. Mulai dari hal sepele ketika orang lain belajar menggunakan bahasa asing, lalu kita mencari-cari kesalahan grammarnya, menyebut diri kita sendiri sebagai grammar nazi. Yah, padahal grammar kita sendiri juga masih berantakan, kacau balau disana-sini. Sampai kasus Dinda sekarang yang tengah marak beredar di sosial media. Entah yah, saya sih melihatnya yang re-post atau turut meramaikan dengan komentar-komentar pedasnya itu seperti public bullying. Tidak, saya tidak bilang itu salah. Namanya juga era demokrasi, semua orang bebas berpendapat, semua orang bebas memberikan kritik. Tapi, kalau saya sendiri, daripada ikutan menjudge orang lain, saya melihat kasus ini untuk kontemplasi ke diri pribadi. Apakah saya sudah lebih peduli dari Dinda? 

Di kota Melbourne ini, menggunakan transportasi umum sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Untuk mencapai kampus, saya perlu naik bus, dilanjutkan dengan tram melintasi sydney road yang aduhai macetnya. Jika saya sedang malas melewati kerumunan mobil di sydney road, saya naik bus menuju stasiun, ganti kereta, ganti tram, plus jalan kaki menuju gedung perkuliahan. Capek? Iya, pake banget. Tapi di daerah tempat saya tinggal, itu mayoritas orang-orangnya sudah berumur yang sedang menjalani pensiunannya. Di daerah tempat saya tinggal, biasanya banyak pasangan muda dengan anak-anak mereka yang baru berusia kurang dari 5 tahun. Nah, saya juga pernah naik tram, ketiduran di tempat duduknya, pas saya bangun, ada kakek-kakek berdiri di sebelah saya. Itu rasanya saya mau tampar diri bolak-balik. Notabenenya, saya khan masih di usia prima. Terus saya enak-enakan tidur di saat si kakek kecapean berdiri. Saya khan paham kalau daerah ini lebih banyak orang yang butuh seat daripada saya, harusnya saya lebih aware dengan sekitar. 

Melihat maraknya berita dinda ini, daripada ikutan menjudge si dinda, saya lebih suka menjudge diri saya sendiri. Jadi yah, untuk mereka yang merasa kritikan mereka penting untuk didengar oleh yang bersangkutan dengan tujuan untuk memperbaiki mereka supaya jadi orang yang lebih baik, yah silahkan dilanjutkan. Tapi kalau cuma untuk ikutan trend, ikutan ngejek, ikutan bully… Shame on you, sih. 

Ini quotes-nya Bob Marley yang biasa saya pakai untuk self-reminder: 

"Who are you to judge the life I live? I know I’m not perfect and I don’t live to be. But, before you start pointing fingers, make sure your hands are clean.

Yuk kontemplasi lagi ke diri sendiri. Berlomba-lomba jadi pribadii yang lebih baik lebih asik :)